Semarang, Kemendikbud --- Kota
Semarang, Jawa Tengah, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Budaya
Indonesia 2015, yang memang baru pertama kali diselenggarakan. Selama
kurang lebih satu pekan, 11 titik di Kota Semarang menjadi lokasi
berbagai kegiatan dalam rangkaian Pekan Budaya Indonesia. Puncaknya,
pada Sabtu malam, (8/8/2015), digelar acara Gelar Tradisi dan Seni
Budaya di Lapangan Simpang Lima, yang dihadiri ratusan orang.
Acara Gelar Tradisi dan Seni Budaya dimulai sejak
sore hari, Sabtu (8/8/2015) dengan berbagai tarian daerah dan
pertunjukan budaya. Acara kemudian dihentikan saat magrib menjelang, dan
dimulai lagi pada pukul 19.00 s.d 22.00 WIB. Gelar Tradisi dan Seni
Budaya di malam hari menghadirkan beragam upacara adat atau upacara
tradisi yang ditampilkan berbagai komunitas adat.
Selain itu hadir juga pertunjukan wayang orang
yang menceritakan kisah Arjuna Wiwaha. Komunitas adat yang turut
menampilkan upacara adat antara lain Komunitas Pitu dari Yogyakarta,
Komunitas Jalawastu dari Brebes, Komunitas Kotagede dari Yogyakarta,
Komunitas Adipala dari Banyumas, dan Komunitas Pakualaman dari
Yogyakarta.
Selain menampilkan upacara adat, para komunitas
adat itu juga mempertunjukkan penampilan kesenian di panggung utama
Gelar Tradisi dan Seni Budaya di Lapangan Simpang Lima. Jihan, seorang
pelajar kelas IX mengatakan cukup tertarik terhadap acara kebudayaan
seperti ini. Meski ia tidak mengerti pertunjukan budaya yang dihadirkan,
baginya pertunjukan itu tetap menarik.
Hal senada juga diungkapkan temannya, Vio. Mereka
datang berdua ke Lapangan Simpang Lima karena mengetahui ada acara
kebudayaan. Mereka tampak asik mengambil gambar di Lapangan Simpang Lima
yang saat itu sangat ramai dikunjungi warga.
Pemerhati kebudayaan dari Komunitas Pakualaman,
Erwito mengatakan, acara seperti ini sangat bagus dan dibutuhkan untuk
terus melestarikan budaya Indonesia dan membuat rakyat lebih mengenali
budayanya. Ia menuturkan, setiap komunitas budaya atau komunitas adat
memiliki upacara adat atau upacara tradisi yang berbeda-beda, tergantung
daerahnya masing-masing. Karena itu diperlukan satu momen atau acara
yang bisa menyatukan penyelenggaraan atau penampilan beberapa upacara
adat dalam satu kesempatan agar dapat disaksikan warga dengan
bersama-sama.
Erwito juga mengapresiasi dukungan pemerintah
daerah dan pemerintah pusat dalam pengembangan kebudayaan, khususnya
terhadap keberadaan komunitas adat. Kedatangannya ke Kota Semarang
bersama para anggota Komunitas Adat Pakualaman, ujarnya, difasilitasi
oleh Direktorat Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ia berharap pemerintah terus memiliki perhatian
terhadap pengembangan dan pelestarian kebudayaan Indonesia. Selain
meriah dengan adanya Gelar Tradisi dan Seni Budaya, Lapangan Simpang
Lima juga ramai oleh kehadiran gerai pameran dari komunitas adat dan
para pedagang asongan. Beberapa pedagang makanan ringan seperti jagung
rebus dan kacang rebus tampak laku dibeli pengunjung untuk dimakan
sambil menikmati pertunjukan yang ditampilkan di atas panggung.
Kursi yang disediakan panitia Pekan Budaya
Indonesia di Lapangan Simpang Lima pun tak cukup menampung antusiasme
warga yang tinggi. Warga pun rela duduk di bawah beralaskan rumput
lapangan. Sebagian besar yang datang membawa serta anggota keluarganya
untuk menikmati malam Minggu di Simpang Lima. (Desliana Maulipaksi)
No comments:
Post a Comment
Komentar